Translate

Cari Blog Ini

Selasa, 22 November 2011

Library 2.0

Layanan perpustakaan elektronik dengan konsep Library 2.0*)

Oleh:
Sri Ati Suwanto**)

Abstrak

Perpustakaan elektronik sudah merebak di Indonesia, baik itu perpustakaan Hibrida, maupun Digital. Tetapi yang telah melakukan layanan dengan konsep ‘Library 2.0’ (Perpustakaan 2.0) dapat dihitung dengan jari. Itupun belum sepenuhnya Perpustakaan 2.0. Pengertian Perpustakaan 2.0 adalah perpustakaan yang benar-benar beorientasi kepada pemakai, yang mendorong perubahan secara terus menerus, mengkreasikan layanan baik fisik maupun maya sesuai dengan keinginan pemakai, dan didukung dengan evaluasi layanan secara konsisten. Perpustakaan yang berorientasi kepada pemakai sangat dibutuhkan saat ini, agar perpustakaan tetap dikunjungi oleh pemakai. Oleh karena itu, artikel ini berusaha mengungkapkan jenis-jenis layanan yang dikembangkan dengan konsep ‘library 2.0, dengan menggunakan menggunakan metode tinjauan literatur. Hasil yang didapat dari penelitian ini adalah bahwa konsep Library 2.0 sudah ada yang diterapkan di beberapa perpustakaan. Layanan-layanan tersebut antara lain ditandai dengan adanya: Chat Reference, Blog dan wikis, jaringan sosial dalam perpustakaan, seperti Faceebook, MySpace, Flikr, RSS Feed, dan lain-lain.
Dengan adanya artikel ini diharapkan dapat menambah pengetahuan pustakawan dan calon pustakawan tentang bagaimana memberikan layanan terbaik di perpustakaan.

4. Kesimpulan
Library 2.0 adalah perpustakaan yang berorientasi pada pemakai dan dikendalikan oleh pemakai seutuhnya, yang menganjurkan perubahan yang beralasan dan terus menerus, dengan mengundang partisipasi pemakai dalam mengkreasikan layanan, baik secara fisik maupun maya sesuai dengan keinginan mereka, dan didukung oleh evaluasi layanan secara konsisten. Library 2.0 adalah penerapan teknologi yang didasarkan pada Web multimedia yang interaktif, kolaboratif, pada layanan perpustakaan dan koleksi yang berdasarkan Web.
Ciri paling jelas dari library 2.0 adalah terjadinya relasi interaktif, multiarah, dan partisipatif antara pengguna dan pustakawannya, serta sistem kerja dan koleksi yang bersifat kolaboratif (dari banyak sumber) selalu dinamis. Praktik library 2.0 di Indonesia dapat ditandai dengan mulai berkembangnya software sistem otomasi perpustakaan (SOP). Baik yang bersifat gratis (open source, seperti ”Senayan” dan ”Athenaeum Light”) maupun yang berbayar.
Ciri-ciri layanan Library 2.0 adalah ditandai dengan adanya layanan-layanan :
1) ‘Chat Reference’ atau ‘Instance messaging’ yaitu layanan yang dapat langsung berbungan dengan pustakawan secara On-line, tanpa menunggu waktu untuk mendpatkan balasannya.
2) Media Streaming, yaitu salah satu bagian dari layanan Chat Reference, yang menambahkan pangkalan data tutorial dengan bahan ajar On-line ( Peer Reviewed Instructional Material Online / PRIMO). Dalam prakteknya dapat dilakukanan dengan penambahan layanan Repository Digital.
3) Blog dan Wikis. Blogs untuk perpustakaan-perpustakaan merupakan bentuk lain dari publikasi. Wiki utamanya adalah halaman Web yang terbuka, dimana setiap orang yang terdaftar dengan Wiki dapat mempublikasikannya, mengembangkannya dan merubahnya. Hal tersebut dapat merubah kepustakawanan, pengembangan koleksi yang kompleks dan instruksi keberaksaraan informasi (information literacy).
4) Jaringan sosial. MySpace, Facebook, Del.icio.us, Frappr dan Flickr, adalah jaringan kerja yang telah menikmati popularitas besar-besaran dalam Web 2.0. Jaringan sosial lain yang patut dilakukan di perpustakaan adalah ‘LibraryThing’ yang memungkinkan pemakai mengkatalog buku mereka sendiri dan melihat apa yang dilakukan pemakai lain men-share-kan buku tsb.
5) Tagging (Pe-ngetag-an). Dalam Library 2.0 pemakai dapat me-ngetag koleksi perpustakaan dalam katalog dengan menambahkan kata (Subjek) yang umum dipakai di masyarakat, tanpa membuang subjek yang telah dibuat pustakawan; dan oleh karenanya pemakai berpartisipasi dalam proses pengatalogan. Pe-ngetag-an (Tagging ) membuat penulusuran tambahan menjadi lebih mudah.
6) RSS Feed. RSS Feeds dan teknologi lainnya yang semacam memberikan kepada pemakai suatu cara untuk mempersatukan dan mempublikasikan kembali isi dari situs lain atau blogs, mengumpulkan isi dari dari situs lain ke dalam suatu tempat tersendiri. Setelah perpustakaan mengkreasikan RSS Feeds untuk pemakai untuk melanggannya, termasuk meng up-date artikel-artikel baru dalam suatu koleksi, layanan baru, dan isi baru dalam pangkalan data langganan, perpustakaan tersebut juga mempublikasikan kembali isi dari situs mereka.
7) Mashups. Mashup adalah aplikasi yang dicangkokkan, dimana dua atau lebih layanan digabung ke dalam satu layanan yang benar-benar baru. Library 2.0 adalah mashup. Mashup tersebut adalah suatu blog hibrida (suatu blog yang dihasilkan dari 2 sistem yang berbeda), wikis, media streaming, pengumpul isi, berita instant, dan jaringan sosial. Library 2.0 mengingatkan pemakai ketika mereka masuk (Log-in) kedalam suatu sistem. Library 2.0 memperbolehkan pemakai mengedit data OPAC dan metadata, menyimpan tag pemakai, surat menyurat instant dengan pustakawan, memasukkan data wiki dengan pemakai lain, dan mengkatalog semua tentang hal tsb. dengan pemakai lain.
Model spesifik dari Perpustakaan 2.0 akan berbeda untuk setiap perpustakaan. Setiap perpustakaan mempunyai titik permulaan yang berbeda. Melalui kolaborasi antara staf dan pemakai, akan dapat mengembangkan ide yang jelas tentang bagaimana model ini dapat bekerja untuk perpustakaan Anda.

DAFTAR PUSTAKA
1.Casey, Michael E. dan Laura C. Savastinuk, 2006. Library 2.0 :Service for the
next-generation library-- Library Journal, 9 Januari.
2.Levine, Jenny .January 30, 2006. Library 2.0 in the Real World. ALA Tech Source.
www.ALA TechSource.
3.Miller, Paul. 2005. Web 2.0: Building the New Library, Ariadne Issue, No.45,
Oktober.
4.Jack M., Maness , 2006. Library 2.0 Theory: Web 2.0 and Its Implications for
Libraries Webology, Volume 3, No. 2, June.
5.Pendit, Putu Laxman, 2009. Perpustakaan Digital : Kesinambungan dan dinamika.
Jakarta: Cita Karya Mandiri.
6.Shanhi, R. ( 2006 ) . Web 2.0: data, metadata, and interface, dalam Maness, Jack
M. Library 2.0 Theory: Web 2.0 and Its Implications for Libraries , Webology,
Volume 3, Number 2, June, 2006
7.Sulistyo-Basuki, 1993. Pengantar Ilmu Perpustakaan. Jakarta: Gramedia Pustaka
Utama.
8.Sudarsono, Blasius, 2009. Menerapkan konsep Perpustakaan 2.0. Makalah disampaikan
pada Workshop Libray 2.0: Challenge and opportunities to Library management,
Semarang , Jurusan Ilmu Perpustakaan, Universitas Diponegoro

------------------
Untuk artikel lengkap silahkan kirim email ke : tikasuwanto@gmail.com

1 komentar:

One's_bLog mengatakan...

memang konsep Library 2.0 ini masih belum banyak diaplikasikan dalam perpustakaan mengingat banyak SDM / pustakawannya sendiri belum mampu menjangkau hal tersebut... banyak prpustakaan masih bersifat manual, dan seakan jauh untuk menggapai konsep lib 2.0 yang baru berumur 7 tahun ini. ntuk mengaplikasikan Library 2.0.
perlu banyak pendidikan atau pelatihan khusus tentang library 2.0, sosialisasi dan promosi harus banyak digencarkan supaya perpustakaan -perpustakaan mulai mengaplikasikannya.