Translate

Cari Blog Ini

Rabu, 11 Maret 2009

PERPUSINFO

New issues: LIBRARY 2.0.

Konsep Library 2.0 diambil dari Business 2.0. dan Web 2.0. yang diadopsi dari Web 2.0. Konsep Library 2.0 ini pertamakali diperkenalkan oleh Michael Casey pada th.2005, adalah suatu konsep yang di definisikan untuk memodernisir bentuk layanan perpustakaan yang lebih beroientasi kepada pemakai/pemustaka dan mengikuti beberapa filosofi yang mendasarinya, termasuk layanan Online yang menggunakan sistem OPAC, dan meningkatkan kelancaran arus informasi dari pemakai kembali ke perpustakaan.

Fokusnya adalah perubahan orientasi kepada pemakai dan partisipasi pemakai untuk menciptakan konten dan komunitas. Dengan Library 2.0. layanan perpustakaan tetap ter-update dan dievaluasi ulang untuk memberikan layanan terbaik kepada perpustakaan.


Ati S.
Blog master

Senin, 09 Maret 2009

Kajian Pemakai

KAJIAN PEMAKAI PERPUSTAKAAN*)

Sebenarnya kata Kajian Pemakai merupakan terjemahan dari User Studies. Di dalam bahasa Indonesia ada yang menterjemahkannya menjadi studi tentang pemakai,dan yang umum digunakan adalah Kajian Pemakai. Menurut Powell (1994: 21- 34), ada dua istilah untuk mengkaji pemakai, yaitu 1) House survey of users, kajian bagi pemakai yang menjadi anggota suatu perpustakaan, dan 2) Community analysis, kajian untuk pemakai baik yang menjadi anggota maupun bukan anggota perpustakaan. Kemudian Sulistyo-Basuki membagi jenis pemakai berdasarkan sosio-profesional (pekerjaannya) menjadi tiga bagian utama, yaitu :
a) Pemakai yang belum terlibat dalam kehidupan aktif pencarian informasi, seperti mahasiswa;
b) Pemakai yang mempunyai pekerjaan tetap, dan bidang-bidang spesialis tertentu, seperti pegawai negeri, (yang masih dapat dikelompok-kelompokkan lagi, seperti teknisi, asisten, administrator, dll.), profesional (dosen, dokter, pengacara), dan industriawan;
c) Pemakai umum, yang memerlukan informasi umum untuk keperluan khusus.
Studi tentang pemakai menurut Suyanto, dalam Suwanto (2000, 382 – 391), merupakan kajian secara sistematis terhadap karakteristik dan perilaku pemakai informasi berkenaan dengan interaksinya dengan sistem informasi. Sedangkan yang dimaksud dengan sistem informasi di sini dapat berarti lembaga-lembaga yang melayani penelusuran informasi, baik itu perpustakaan, pusat-pusat dokumentasi dan informasi, maupun suatu sistem informasi di dalam komputer dengan menggunkan pangkalan data-pangkalan data baik pangkalan data lokal maupun pangkalan data ekstern atau pangkalan data dari luar lembaga tersebut. Menurut White (1993), sebuah kajian bisa dinamakan kajian pemakai bila kajian tersebut merupakan kajian yang tidak terfokus pada apa yang dikerjakan perpustakaan tetapi pada apa yang dikerjakan oleh orang-orang bila mereka membutuhkan informasi. Dari pernyataan White ini maka tersirat makna bahwa kajian pemakai adalah kajian tentang orang-orang yang membutuhkan informasi, bukan kajian tentang apa yang dilakukan oleh lembaga informasi. Lingkup kajian pemakai bukan hanya berada di perpustakaan tetapi juga di luar perpustakaan, yang menurut Powel (1994: 21- 34), disebut Community Analysis. Dengan demikian semua kajian tentang pemakai di luar perpustakaan, baik di Warnet-warnet, di kafe-kafe dengan menggunakan Laptop masing-masing, maupun di dalam kampus-kampus tetapi di arena Hotspot, dapat disebut Community Analysis.
Menurut Savoleinen (dalam Vakkari dan Cronin, 1992: 153) kegiatan pencarian dan penggunaan informasi serta penciptaan dan pengolahannya adalah kegiatan Sense-making yang dipengaruhi oleh faktor-faktor internal dan eksternal individu yang bersifat subyektif. Faktor-faktor tsb. antara lain pendapat, evaluasi dan situasi. Sedangkan Kajian Pemakai adalah kajian terhadap faktor-faktor internal dan eksternal tsb. untuk menyibak kegiatan sense-making.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kajian pemakai adalah kajian yang mempelajari faktor-faktor internal dan eksternal manusia baik sebagai individu maupun sebagai anggota masyakat dalam hubungannya dengan sistem informasi.


LANDASAN PEMIKIRAN DAN KAJIAN SEBELUMNYA

Kajian pemakai timbul akibat adanya perubahan cara memandang informasi, yaitu dengan munculnya paradigma kognitif yang berlawanan dengan paradigma fisik. Paradigma fisik memandang informasi sebagai sesuatu yang objektif, berada di luar manusia, dan dapat disentuh. Sedangkan paradigma kognitif memandang informasi sebagai sesuatu yang subyektif, individual, dan tidak dapat disentuh (Dervin: 1983). Paradigma fisik berkonsentrasi pada peran dan sumbangan perpustakaan kepada perpustakaan dan keterlibatannya dalam proses budaya dan sosial. Paradigma kognitif berkonsentrasi pada sistem komunikasi informasi yang melihat perpindahan informasi dari pencipta atau pengarang ke pemakai yang dilihat dari sisi temu balik informasi atau yang lebih dikenal dengan penelusuran informasi. Paradigma ini menempatkan pemakai sebagai bahan kajian yang berkaitan dengan aspek kognisi yang terjadi pada pemakai. Paradigma kognitif inilah yang akhirnya melahirkan suatu pendekatan dalam ilmu perpustakaan dan informasi yang disebut dengan Kajian Pemakai (Pendit, 1993: 1-3).

Dalam hubungannya dengan aspek kognitif, Belkin (1985: 11-19) menyebutkan bahwa kebutuhan informasi muncul karena adanaya kesenjangan dalam struktur pengetahuan manusia untuk menyelesaikan masalah yang dihadapinya. Kesenjangan ini disebut Anomalous State of Knowledge (ASK). Kesenjangan pengetahuan ini akhirnya mendorong manusia untuk mencari informasi guna memenuhi kebutuhannya.

Menurut Kuhlthau (1991: 362), dalam pencarian informasi dikenal adanya rangkaian aktivitas yang dinamakan Information Searching Process (ISP). Dalam proses ini secara umum ada enam pola pencarian informasi,yang urutannya sbb.: inisiasi, seleksi, eksplorasi, formulasi, koleksi, dan presentasi dari informasi yang telah ditemukannya. Lebih lanjut Kuhlthau (1991: 362), menggambarkan proses ISP ini dalam tabel sebagai berikut :

Tabel 1

INFORMATION SEARCH PROCESS

Tahap-tahap dalam ISP

Perasaan yang muncul dalam suatu tahap

Pola pikir yang muncul

Tindakan yang biasa dilakukan

1. Inisiasi

Ketidakpastian

Umum/samar-samar

Mencari informasi latas belakang

2. Seleksi

Optimisme

Penuh pertimbangan

Berdiskusi, memulai seleksi

3. Eksplorasi

Kebingungan/frustasi, keraguan

-

Mencari informasi yang relevan

4. Formulasi

Kejelasan

Lebih sempit/lebih jelas

-

5.Pengumpulan (Koleksi)

Keyakinan

Peningkatan rasa tertarik

Mencari informasi secara lebih terfokus

6. Presentasi

Lega, Puas atau bisa juga kecewa

Lebih jelas, lebih terfokus.

-

Di samping pola pencarian informasi seperti yang digambarkan oleh Kuhithau seperti di atas, masih ada pola-pola lain yang dikelompokkan berdasarkan strata, tata nilai dan kedudukan si pencari informasi seperti yang ditemukan leh Palmer (1991) dan Elli, Cox, dan Hall (1993).

TUJUAN KAJIAN PEMAKAI

Menurut Ford ( dalam Darmono & Ardoni, 1994: 25) tujuan kajian pemakai adalah untuk memahami proses perpindahan informasi dan semua implikasinya untuk semua bentuk lembaga informasi, dan penyebaran informasi yang berhubungan dengan sistem. Secara rinci tujuan kajian pemakai dirumuskannya sbb.:

a) untuk menjelaskan fenomena yang dikaji;

b) untuk memahami perilaku pemakai,

c) untuk memperkirakan dan mengantisipasi perilaku pemakai;

d) untuk mengontrol fenomena dan menumbuhkan pemanfaatan informasi dengan memanipulasi kondisi-kondisi yang dianggap penting.

Berdasarkan bidang kajiannya Sulistyo-Basuki (1992: 204-205) menyebutkan tujuan kajian pemakai memiliki tiga tujuan komprehensif, yaitu:

a) Analisis kebutuhan; yang dikaji yaitu jenis dan sifat informasi yang dicari dan diterima, dari titik pandangan kuantitatif dan kualitatif.

b) Analisis perilaku informasi; yang mengkaji bagaimana kebutuhan informasi dipenuhi.

c) Analisis motivasi dan sikap; yang mengkaji nilai-nilai yang dinyatakan pemakai, baik diungkapkan secara terbuka maupun tersembunyi tentang informasi dan aktivitas yang berhubungan dengan citra pemakai tentang jasa dan spesialis informasi.

ASPEK-2 KAJIAN PEMAKAI

Berdasarkan pengelompokan tujuan yang dilakukan oleh Ford (dalam Darmono dan Ardoni, 1994: 28 – 29), maka ada beberapa aspek yang dapat dilakukan , yaitu :

a) Sumber informasi

Kajian tentang sumber informasi telah banyak dilakukan terutama untuk menguji keterpakaian koleksi . Kajian ini kadang-kadang dapat dibandingkan dengan jenis koleksi yang berbeda dan membahas alasan penggunaan jenis koleksi tertentu.

b) Pemakaian informasi

Kajian ini biasanya meneliti motivasi pemakaian informasi dan cara mencari informasi yang dibutuhkan, serta tenggang waktu antara batas waktu man dengan pemanfaatan secara nyata.

c) Ciri-ciri informasi

Kajian tentang ciri-ciri informasi mengelompokkan pemakai berdasarkan tingkat kebutuhan, perilaku, latar belakang dan pekerjaan pemakai. Karakteristik dalam bentuk tipologi pemakai akan dapt memberikan gambaran dengan cara pemetaan perlaku dan kebutuhan dengan mengidentifikasi tipe-tipe mereka.

d) Sistem-sistem (tata nilai) dari pemakai

Kajian ini meneliti hubungan antara sistem atau tata nilai pemakai dengan perilaku mereka dalam mencari informasi yang dibutuhkan. Sistem dan tata nilai yang berpengaruh antara lain sistem kebudayaan, sistem politik, teman-teman sewaktu kuliah (invisible college ), organisasi formal, dan sistem ekonomi di masyarakat.

e) Interaksi antara pemakai dengan sistem informasi.

Kajian ini diarahkan pada proses interaksi antara pemakai dengan sistem yang ada di perpustakaan atau di pusat-pusat informasi. Yang menjadi perhatian utama adalah sikap dan perilaku pemakai.

METODE-METODE KAJIAN PEMAKAI

Untuk melakukan suatu kajian atau penelitian tentunya memerlukan metode.

Metode yang digunakan untuk kajian pemakai sekarang ada pergeseran cara dari metode kuantitatif ke metode kualitatif, dengan metode pengumpulan datanya kuesiner dan wawancara, serta observasi. Lebih lanjut Britain (Dalam Darmono dan Ardoni, 1994 : 29 – 30), mengidentifikasi empat pendekatan utama, yaitu :

a) Penyelidikan langsung ( termasuk penggunaan kuesioner dan wawancara) untuk pengamatan layanan-layanan yang ada

b) Metode eksperimental, untuk mendapatkan umpan balik observasi langsung

c) Metode kuesioner (dengan pertanyaan yang terbuka) untuk menilai sikap yang dikaitkan dengan layanan.

d) Observasi / pengamatan langsung.

Di samping metode-metode tsb. di atas yang masih bersifat umum, tidak tertutup kemungkinan adanya metode-metode lain untuk kasus-kasus dan kondisi tertentu.



*) Oleh Sri Ati Suwanto